Andri Suandani

Lahir dan tinggal di Kuningan. Menyelesaikan SD s.d. SMA di Kuningan (SDN 3 Purwawinangun, SPENSA, SMANDA). Menyelesaikan S1 jurusan Bahasa dan Sast...

Selengkapnya
HAPE UNTUK RAJA

HAPE UNTUK RAJA

Hari tampak masih pagi, kulihat Mang Njum sudah ada datang menghampiri rumahku. Dibunyikannya bel sepeda kumbangnya. Kring…kring..kring. Bunyi bel yang nyaring. Berbunyi riang penuh semangat. Persis seperti sang mpunya sepeda. Selalu ceria penuh semangat.

Pagi ini Mang Njum datang akan mengambil hape dariku. Hape baru. Hape baru yang kubeli tadi malam dari toko di kota sana. Hape baru keluaran edisi terbaru. Hape berharga hampir dua juta rupiah. Hape baru yang akan kuberikan pada Mang Njum, bukan gratis. Tapi Mang Njum akan menyicilnya semampu dia bayar. Tak kulebihi harganya sebagai labaku. Tidak.

Aku memberikan kemudahan pada Mang Njum. Tak kulebihkan harga hape tersebut. Dan tak kubatasi pula berapa lama dia akan menyicilnya. Terserah padanya, berapa lama dia sanggup. Tak seperti kepada orang-orang lain. Sebagai juragan kredit pastilah aku akan melebihkan harganya sebagai labaku. Biasanya aku lebihkan harganya sampai 25%. Dan pembeli biasa mengangsurnya selama 10 bulan.

Mengapa aku berlaku demikan terhadap Mang Njum? Inilah awalnya cerita bermula.

Dua hari lalu saat aku pulang dari kendurian tetangga. Kulihat Mang Njum membopong anaknya. Terengah-engah kelelahan lalu masuk ke rumahnya. Penasaran, maka kuhampiri Mang Njum di rumahnya tersebut. Kulihat anaknya direbahkannya di balai-balai. Mengaduh kesakitan sambil memegang punggung telapak kaki kirinya.

“Eh, kenapa itu si Raja, Mang Njum?” tanyaku.

“Ini Kang Ayip. Si bungsu keseleo tadi saat latihan karate.” jawab Mang Njum.

“Lho kok sampe gitu?”

“Ini katanya tadi pas latihan nendang, kena tangkis temannya. Nilep jari kakinya.”

Kulihat anaknya Mang Njum menangis sesenggukan.

“Sakit Ja?” tanyaku.

“Sakit…” jawab Raja sambil menghapus air matanya,”padahal nanti dua hari lagi mau ada turnamen karate.”

“Wah…kalau gitu itu harus lekas diurut. Ayo segera bawa ke tukang urut.” seruku.

Kulihat Mang Njum tertegun. Diam sebentar. Menarik nafas. Lalu dielus-elusnya kepala Raja. Aku faham, Mang Njum mungkin tak tahu harus apa dan bagaimana. Atau mungkin pula Mang Njum ragu. Mungkin dia tak punya uang. Karena beberapa hari ini kulihat Mang Njum tak berangkat nguli ke pasar.

“Mang, ayo siap-siap. Nanti saya ngambil dulu mobil. Kita ke tukang urut. Perkara biayanya, tenang saja, nanti saya yang bayar. Tak seberapa juga”

……………

Satu jam setelah dari tukang urut. Kami bertiga duduk-duduk di balai-balai rumah Mang Njum.

“Raja. Memang kamu mau tanding, kapan?”

“Besok lusa Pak Ayip.”

“Itu gimana kalau tetap masih sakit. Biasanya keseleo walau sudah diurut, tak akan langsung sembuh. Butuh dua atau tiga hari pemulihan.”

“Masa? Ini padahal kejuaraannya sudah lama ditunggu. Raja harus tetap ikut. Walau belum sembuh pun Raja mau tetap ikut” jawab Raja sedikit risau. Terlihat ada guratan kecewa.

“Dia semangat sekali mau ikutan lomba,” kata Mang Njum setengah berbisik supaya tak terdengar oleh Raja,”Kang, dia saya janjikan beli hape, kalau dia bisa juara. Padahal saya juga asal ngomong saja sebenarnya. Kan Akang tahu sendiri saya duit dari mana. Saya ‘kecaletot’ ngomong sebenarnya, supaya semangat saja dia”

Aku manggut-manggut mendengar bisikan Mang Njum. Kulihat Raja, ah…kasihan juga anak itu.

”Jadi gimana Ja? Mau maksa ikut tanding?”

“Iya Pak Ayip. Mau maksakan saja. Sakit dikit gak apa-apa. Mau ditahan saja.”

“Tanding karatenya mau ngambil kelas apa?”

“Kelas Kata Pak.”

“Ya, saya doakan semoga kamu menang ya.”

“Aamiin…terima kasih Pak.”

Sebelum pulang kuajak Mang Njum keluar rumah.

“Mang, menang tak menang, kau harus tetap kasih anakmu itu hape. Kasihan. Mungkin teman-temannya di sekolah sudah lama pakai hape. Ini anakmu sampai sekarang belum punya hape.”

“Tapi Kang…anu..saya…”

“Sudahlah saya paham kok. Kamu besok lusa ambil hape di rumahku. Nanti bayarnya nyicil kapan saja sampean sanggupnya.”

“Ya Gusti Allah, Alhamdulillah…terima kasih Kang Ayip, terima kasih banyak. Nanti saya nyicil ya.”

“Tenang saja Mang. Yang penting mudah-mudahan kaki anakmu besok-besok sudah tak sakit lagi. Dan semoga menang tentunya.”

“Aamiin Kang Ayip, mudah-mudahan.”

*****

Kubuka pintu.

“Ayo Mang Njum, masuk!”

“Iya Kang.”

“Nih, hapenya masih baru, masih di kotak.”

“Wahh, ini si Raja pasti senang.”

“Tapi jangan kau berikan sekarang. Nanti kalau lomba sudah selesai saja.”

Ditimang-timangnya kotak dus yang berisi hape. Dipandanginya sambil tersenyum. Kulihat tatapan mata Mang Njum berbinar-binar. Mungkin bangga bahwa akhirnya sebentar lagi anaknya akan punya hape.

“Mang, anaknya sudah berangkat ke GOR?”

“Sudah Kang, barusan tadi.”

“Sampean tak nonton anakmu bertanding?”

“Tadinya mau, tapi si Raja melarang. Katanya nanti dia gugup kalau bapaknya nonton.”

“Oh gitu. Sudah nonton saja, jangan bilang-bilang. Toh nanti nontonnya juga di deretan orang banyak. Pasti tak kelihat sama si Raja. Saya juga mau ikut nonton lah. Ayo Mang kita berangkat.”

*****

Tiba di GOR, sudah terdengar suara orang bergemuruh dari dalam gedung. Bersorak-sorai. Bertepuk tangan. Ada beberapa penonton yang teriak-teriak memberikan semangat.

“Kang anakmu dari dojo apa?”

“Dari SKK Kang.”

“Kalau gitu kita nontonnya jangan di kelompok suporter anakmu itu, supaya tak dilihat anakmu. Tuh anakmu kayaknya ada duduk di situ. Kita duduk di tribun timur saja.”

Kami berdua pun segera ngambil duduk di tribun yang berlawanan dengan tribun tempat duduknya para suporter SKK. Kami mengambil tempat duduk sisi paling depan.

Lomba pun dimulai. Beberapa kelas dipertandingkan. Awal-awal lomba dipertandingkan kelas-kelas pemula. Selanjutnya kudengar dari pembawa acara bahwa kelas cadet, kelas di mana Raja bertanding, akan dilangsungkan dua jam lagi.

Dua jam lebih berlalu. Kulihat dari kejauhan Raja turun dari tribun dan masuk ke pinggir lapangan. Dia terlihat bersiap mengambil pemanasan. Rupa-rupanya sebentar lagi Raja akan kegiliran bertanding.

Benar saja. Tak lama kemudian lewat pengeras suara pembawa acara mengumumkan bahwa kelas Cadet akan segera berlangsung. “Pertandingan selanjutnya nomor Kata Cadet, bertanding antara M. Raja dari SKK Kuningan dengan sabuk biru melawan Rudyat dari Tatsuma Kids Lampung dengan sabuk merah”.

“Mang itu anakmu mau tanding.”

“Iya Kang, saya gugup, mudah-mudahan kakinya tak sakit. Saya keluar dulu Kang. Gak lihat dulu. Kecuali kalau nanti masuk final saja.” kata Mang Njum sambil segera bergegas ke belakang tribun, lalu keluar gedung, entah menuju kemana.

……………

Raja pun tampil. Dengan gerakan yang penuh tenaga, Kata (jurus) Kankusho yang atraktif pun dia tampilkan dengan indah dan ekspresif. Dan akhirnya di tampilan pertama ini, lima juri mengangkat bendera berwarna biru. Raja lolos ke babak selanjutnya.

*****

Beberapa waktu berlalu. Hampir setengah jam Mang Njum tak terlihat kembali ke tribun. Maka segeralah aku mencarinya. Kuhampiri pelataran halaman GOR. Tampak Mang Njum sedang duduk di teras halaman.

“Mang ayo kembali. Itu si Raja masuk final.”

“Hah? Yang bener? Masuk final?” jawab Mang Njum setengah tak percaya.

“Iya betul. Ayo segera, sekarang mau tampil.”

Kami pun duduk di tempat duduk semula, di tribun timur.

“Tuh lihat Mang. Raja sudah di pinggir lapangan, dia memijat-mijat lagi kakinya. Jangan-jangan kakinya makin sakit.”

Betul Kang. Jalannya pun agak berjinjit, nahan rasa sakit kayaknya. Kasihan Kang, tak tega saya.” jawab Mang Njum. Kulihat Mang Njum memeluk kantong kresek yang berisi kotak dus yang ada hapenya.

“Bismillah Mang, jangan lupa doa. Tapi ingat, menang tak menang, hape tetap kasihkan. Kasihan anak itu. Berjuang demi ingin punya hape.”

“Iya Kang.”

Final nomor Kata kelas Cadet pun dimulai. Terlihat Raja bersiap di pinggir lapangan sisi kiri. Di final ini Raja mengenakan sabuk merah. Sementara lawannya yang bersabuk biru sudah masuk ke tengah area. Rupa-rupanya Raja kebagian tampilan kedua pada final itu.

Sang lawan pun mulai memperagakan jurusnya, Kata Kankusho. Kata yang sudah dibawakan oleh Raja pada babak awal. Penampilan lawan yang cukup bagus. Kata Kankusho diperagakan dengan baik nyaris tanpa kesalahan. Tepukan penonton dari tribun barat pun membahana. Tribun di mana suporter dari dojo SKK berada! Rupa-rupanya lawan Raja di final juga adalah dari sesama dojo SKK. Itu artinya All SKK final!

Selesai tampilan, sang lawan memberikan salam penghormatan. Lalu berjalan mundur ke tepian lapangan sebelah kanan. Sekarang giliran Raja tampil.

Raja pun berjalan masuk ke tengah lapangan matras. Jalannya agak pincang!

Kulihat Mang Njum komat-kamit. Mungkin sedang berdoa. Kulihat pula matanya berkaca-kaca. Wajahnya tegang. Tatapannya tegas ke arah tengah lapangan.

“Semoga anakku tak menjadi parah cederanya itu,” kata Mang Njum pelan,”Kang Ayip, kalau sudah begini, saya hanya minta doa semoga kakinya tak menjadi parah saja. Urusan menang mungkin saya tak terlalu mengharapkan. Saya takut malah cederanya itu akan menjadikan kaki anakku cacat.”

“Iya Mang…”

Raja pun memulai tampilannya. Dia mulai memperagakan jurusnya, Kata Enpi. Kata yang juga cukup atraktif. Yang tingkat kesulitannya pun hampir sama dengan Kata Kankusho. Pada jenis kata ini juga terdapat gerakan sulit, yaitu gerakan melompat sambil memutar. Ini gerakan yang memerlukan tumpuan kaki yang cukup kuat. Bukankah kaki kiri Raja sedang cedera?

Kubisikkan pada Mang Njum bahwa nanti di hampir akhir jurus ini ada gerakan memutar yang mungkin akan sulit dilakukan dengan kondisi kaki Raja yang keseleo. Aku dan Mang Njum pun berharap-harap cemas. Takut Raja tak dapat menuntaskan gerakan itu.

Maka beberapa menit berlalu. Hingga tiba saatnya gerakan memutar itu pun tiba. Kami berdua menahan nafas.

Dalam sebuah momen yang tepat. Raja dengan reflek dan penuh tenaga, melompat dan memutarkan badannya 360 derajat. Lalu kemudian… tubuh anak lelaki 14 tahun itu pun memutar… sambil berteriak keras: HHHUUAAA!… raja pun berhasil berpijak dengan kaki kuda-kudanya yang tegap dengan sempurna. Tak goyang sedikitpun. Tak ada kelihatan bahwa kakinya sedang cedera. Sepertinya pula Raja berusaha dengan keras tak menghiraukan rasa sakit di kakinya tersebut. Seisi penonton GOR pun riuh bergemuruh bertepuk tangan. Lebih bergemuruh dari lawannya tadi.

“Mang, Raja berhasil melakukan gerakan itu dengan bagus Mang.” kataku berbisik pada Mang Njum yang masih melongo tak percaya.

Akhirnya tampilan Raja pun usai. Setelah salam penghormatan terakhir, Raja berjalan mundur ke belakang, berdiri menempati pinggir lapangan semula. Berdiri di sisi kiri.

Maka penentuan siapa pemenang pun segera akan ditentukan. Kelima juri yang duduk di kursi masing-masing sisi lapangan bersiap akan menentukan pilihannya. Bendera biru dan merah dipegang oleh masing-masing juri. Sebuah penentuan pemenang yang cukup sulit, mengingat kedua finalis menampilkan gerakan kata yang cukup baik.

Dan priitttttt…juri wasit yang paling tengah meniupkan peluit. Itu pertanda bahwa semua juri harus serempak mengacungkan bendera warna pilihannya. Ao atau aka, biru atau merah!?

Semua orang seisi GOR terdiam. Aku pun menahan nafas. Jantung berdegup kencang. Kulihat di sisiku, Mang Njum kembali komat-kamit, kepalanya ditundukkan. Kulihat pula ke arah lapangan, Raja sedang tengadahkan kepalanya ke langit-langit gedung sambil berkomat-kamit pula. Sepertinya pula Raja tak kuasa melihat acungan bendera para juri. Sehingga dia tetap tengadahkan kepalanya ke atas, menghindari pandangan ke arah acungan bendera.

Dan….waktu yang ditunggu pun tiba. Secara serentak kelima juri mengacungkan benderanya. Tiga orang mengacungkan bendera merah. Dua orang mengacungkan bendera biru. AKA yang menang! Finalis sabuk merah yang menang! Itu artinya Raja yang juara!!!!

Seisi GOR pun pecah. Penonton bergemuruh hebat. Sambil mengelu-elukan nama Raja.

Kulihat Mang Njum terpaku. Melongo. Tak tahu apa yang harus dilakukan atau malahan mungkin dia tak tahu apa yang telah terjadi.

“Mang, itu anakmu menang. Raja menang Mang!” teriakku sambil menguncang-guncangkan badan Mang Njum.

“Apaaa?”

“Iya Raja menang Mang!”

Akhirnya Mang Njum baru menyadari keadaan. Dengan spontan dia bangkit lalu berdiri di atas kursi tribun yang didudukinya. Sambil mengangkat kotak dus hape, dia berteriak keras. “Hidup anakku! Horeeeeee! Anakku menannnnng.”

Seluruh penonton tribun timur serentak menoleh ke arah Mang Njum, rupa-rupanya mereka mendengar teriakan keras Mang Njum.

Pun rupa-rupanya pula dari arah lapangan, Raja mendengar pula teriakan suara orang yang mungkin tak asing di telinganya. Lalu segera Raja menoleh ke arah tribun timur. Dilihatnya bapaknya sedang berteriak kegirangan sambil mengangkat sebuah kotak dus. Raja pun tersenyum sambil melambaikan tangannya. Sejenak kemudian Raja tampak menghadapkan badannya dengan tegak ke arah tribun timur tempat bapaknya berada. Lalu kemudian dia membungkukkan badannya khas salam penghormatan karateka, sambil berteriak mengucapkan kata “osh” ke arah bapaknya yang berdiri di kursi tribun. Sesaat kemudian seisi GOR pun kembali bergemuruh bersorak-sorai sambil bertepuk tangan.

*****

Satu jam berlalu. Gelaran turnamen karate pun telah usai. Ruang GOR kembali sepi. Di luar gedung pun sudah tampak mulai sepi pula, hanya beberapa orang saja terlihat sedang membereskan properti bekas pertandingan ke atas sebuah mobil truk.

Aku pun berjalan pulang, menyusuri jalan samping GOR yang penuh dengan jejeran pohon-pohon akasia yang teduh. Kulihat di depanku seorang bapak dengan anaknya berjalan santai penuh ceria. Keduanya saling tertawa-tawa. Sang bapak tampak berjalan sambil menuntun sepeda kumbang tuanya. Sementara sang anak berjalan di sampingnya, sambil memegang sebuah piala dan sebuah kantong kresek yang berisi sebuah kotak dus.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali